Langsung ke konten utama

Ngaku Salah, Malah Dapet Hadiah

Please! Nggak usah takut mengakui kesalahan. Siapa tahu, kamu bakal dapet hadiah seperti pemuda dalam kisah yang akan saya ceritakan ini.

Alkisah, ada seorang pemuda saleh yang sedang kelaparan. Ketika menyusuri sungai, tiba-tiba dia menemukan sebuah jambu mengapung di sungai. Tanpa pikir panjang, jambu itu langsung dia sikat. Dalam waktu singkat, jambu itu habis dia lahap dan perutnya pun terselamatkan dari bahaya kelaparan.

Tapi, saat itu pula, dia langsung dikejutkan oleh sebuah pikiran: dia telah makan jambu tanpa izin pemiliknya. Pikiran itu membuatnya betul-betul gelisah. Dia telah menyelamatkan perutnya dari kelaparan, tetapi dia telah menjerumuskan dirinya pada perbuatan hina: memakan buah jambu yang bukan haknya.

Si pemuda akhirnya memutuskan untuk menyusuri sungai hingga menemukan pemilik jambu itu. Di hulu sungai, dia menemukan pohon jambu dan sebuah rumah. Si pemuda langsung menemui seorang kakek yang terlihat berada di kebun itu. Setelah mengucapkan salam, pemuda itu langsung mengutarakan maksudnya. “Wahai kakek, saya datang ke sini mau minta maaf. Saya tadi memakan jambu dari pohon Anda yang hanyut di sungai. Saya akan berterima kasih kalau Anda merelakan jambu yang sudah saya makan itu. Tapi, kalau Anda nggak rela, saya siap menerima hukuman apa pun yang Anda kehendaki.”

Apakah si kakek itu merelakannya? Ternyata, si kakek itu beda dengan Pak Raden yang nggak rela jambunya dimakan oleh si Unyil dan teman-temannya. Sebagai hukumannya, si pemuda harus membantu si kakek memelihara kebun selama waktu yang ditentukan. Bukan hanya itu, kalau tugas itu selesai, si pemuda itu harus kawin dengan cucu si kakek. Wah, asyik, dong! Eit, tunggu dulu. Menurut si kakek, cucunya itu nggak bisa melihat, mendengar, bicara, dan berjalan. Wah! Celaka! Tapi, si pemuda nggak bisa menolak sebab dia sudah janji bakal menerima hukuman apa aja.

Sekian lama si pemuda menjalani hukuman— memelihara kebun jambu milik si kakek—hingga waktu yang menegangkan itu tiba. Dia akan dinikahkan dengan seorang “perempuan cacat” cucu si kakek. Saat pernikahan itu berlangsung, si pemuda kaget bukan main karena perempuan yang menjadi mempelai perempuan itu ternyata cantik bukan main. Nggak ada tanda sedikit pun bahwa dia itu memiliki cacat seperti yang disebutkan si kakek. 

Dengan penuh heran, si pemuda bertanya pada si kakek, “Kek, nggak salah, nih? Katanya, cucu kakek itu nggak bisa melihat, mendengar, bicara, dan berjalan.”

Dengan tenang, si kakek menjawab, “Memang benar cucu saya itu nggak bisa melihat, mendengar, dan bicara hal-hal yang dilarang Allah. Dia juga nggak bisa melangkahkan kakinya ke tempat yang dilarang. Aku nikahkan cucuku itu kepada kamu karena aku yakin kamu adalah pemuda yang jujur.”

Wah, asyik banget! Sudah dapet jambu gratis, dapet juga istri yang cantik. Itu semua hadiah dari keberanian mengakui kesalahan. Zaman Rasul juga pernah ada yang mengakui kesalahan malah dapet kurma. Begini ceritanya...

Pada bulan puasa. Ada seorang lelaki yang datang mengaku telah berbuat dosa karena melakukan hubungan intim dengan istrinya, padahal dia sedang berpuasa. Maka, Rasul pun memerintahkan dia untuk puasa 40 hari berturut-turut tanpa putus. Jelas aja si lelaki itu nggak sanggup. Jangankan 40 hari, yang 30 hari Ramadhan aja nggak kuat. Rasul pun menurunkan kadar hukumannya, “Baik. Kalau begitu, kamu harus memberi makan fakir miskin sebanyak 40 orang.”

Akan tetapi, si pemuda itu masih keberatan. “Wah, Rasul, jangankan ngasih makan fakir miskin, ngasih makan anak-istri aja saya sudah ngos-ngosan.”

Lalu, Rasul memberi alternatif. “Kalau begitu, bagikan kurma ini kepada fakir miskin di sekitarmu,” kata Rasul sambil memberi sekantung kurma.

“Rasul, di daerah saya nggak ada orang yang lebih miskin dari saya,” kata si lelaki itu. Sambil tersenyum, Rasul berkata, “Sudahlah. Kalau begitu, pulanglah dan bawa kurma ini untuk kamu makan bersama keluargamu.”

Gila! Sudah bikin salah, dapet kurma lagi. Gimana nggak bijak, Rasul kita yang agung itu! Kalau sekarang kita punya pemimpin kayak Rasul, wah, kayaknya ngga bakalan ada koruptor, deh.


Disalin dari : Boleh Dong Salah! Penerbit DAR! Mizan, 2006, oleh Irfa AmaLee, halaman 88-91.

Komentar

Artikel Sering Dibaca

Sekilas Tentang PT Jasa Raharja

Berikut ini penulis menyampaikan pengalaman mengajukan klaim santunan kepada PT Jasa Raharja bila terdapat kejadian kecelakaan lalu lintas jalan raya. Proses pengajuannya mudah, dan santunan dapat dicairkan dengan cepat. Hal ini penting disampaikan mengingat PT Jasa Raharja adalah BUMN yang melaksanakan asuransi kecelakaan penumpang alat angkutan umum yang merupakan implementasi dari: UU No 33 Tahun 1964 Jo PP No 17 Tahun 1965 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang Umum menjelaskan korban yang berhak atas santunan adalah setiap penumpang sah dari alat angkutan penumpang umum yang mengalami kecelakaan diri, yang diakibatkan oleh penggunaan alat angkutan umum, selama penumpang yang bersangkutan berada dalam angkutan tersebut, yaitu saat naik dari tempat pemberangkatan sampai turun di tempat tujuan. Bagi penumpang kendaraan bermotor umum (bus) yang berada di dalam tenggelamnya kapal ferry, maka kepada penumpang bus yang menjadi korban diberikan santunan ganda. Sedangkan...

Nilai Sebuah Kehidupan

Dari kisah nyata tahun 2013 ....  Entah siapa yang memberitahunya alamat saya, ia tiba-tiba sudah berdiri di hadapan saya. Seorang sahabat lama yang sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah bertemu, perawakannya tidak ada yang berubah mulai dari cara bersisirnya hingga cara berpakaiannya. Bahkan jika saya tidak salah ingat, pakaian yang dikenakannya saat itu adalah pakaian sehari-hari yang saya lihat sepuluh tahun yang lalu. Ia bersepatu, tetapi saya tak sanggup menatap lama-lama sepatunya itu, hanya karena khawatir ia tersinggung jika saya menatapnya lama. Sebuah tas gemblok lusuh menempel di punggungnya, selusuh celana panjang yang warna hitamnya sudah memudar. Sebut saja Mino, ia langsung membuka tangannya berharap saya memeluknya sama hangatnya seperti dulu setiap kali kami bertemu. Tentu saja saya menyambut haru tangan terbukanya itu, kami pun berpelukan hangat dan cukup lama. Aroma matahari cukup menyengat dari tubuhnya tak membuat saya ingin melepaskannya, semerbak kerinduan ...

Manfaat Membaca Buku untuk Kesehatan Otak

Budaya membaca, mengapa sih kita harus membaca ? Karena membaca merupakan suatu cara untuk mendapatkan informasi yang di tulis. Membaca perlu ditekankan kepada setiap individu sejak kecil. Karena, informasi yang paling mudah untuk kita peroleh adalah melalui bacaan, baik koran, majalah tabloid, buku-buku, dan lain-lain. Membaca mungkin kata yang sederhana namun sering kali susah untuk dilakukan oleh setiap orang. Membaca mungkin kegiatan yang mudah dilakukan namun sering kali susah untuk dijadikan kebiasaan. Banyak orang yang memaknai jika membaca adalah kegiatan yang membosankan dan hanya membuang-buang waktu saja. Apalagi di zaman sekarang ini dimana semua hal bisa divisualisasikan menjadi grafis sehingga mengurangi minat baca masyarakat. Kebiasaan membaca harus selalu dibiasakan mulai sejak dini. Ketrampilan membaca dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami berbagai konsep dengan mudah. Hal ini mengembangkan ketrampilan berpikir kritis pada anak-anak. Memahami konsep dan...

Mengapa Banyak Orang Pintar tapi Miskin?

Ternyata kemampuan otak tidak menjamin orang untuk bisa kaya. Buktinya banyak orang yang pintar tapi penghasilannya pas-pasan, atau malah nganggur, sementara banyak juga orang yang tidak sampai tamat sekolah atau malah tidak pernah sekolah tapi bisa jadi direktur atau pemilik perusahaan, dan tentunya punya uang yang banyak. Mengapa bisa begitu? Usaha adalah kuncinya. Tetap berusaha, berusaha dan berusaha seoptimal mungkin. Ternyata ini bisa dibuktikan dengan rumus tentang usaha yang kita dapat di kelas 1 SMP dulu. Rumus dari Usaha adalah: W = P x t Dimana: W = Usaha (Work) P   = Daya (Power = Kekuasaan) t    = waktu (time) Jadi: t = W / P Diketahui dan dapat kita lihat bahwa : Waktu adalah uang; Time is Money Pengetahuan adalah kekuasaan; Knowledge is Power Maka rumus di atas bisa diubah menjadi: Uang = Usaha / Pengetahuan Jadi kesimpulan berdasarkan rumus di atas: Jika pengetahuannya sama atau konstan, yang usahanya lebih banyak akan mendapat uang lebih banyak juga....